Variasi Media Pembelajaran Bahasa Inggris

1. Peran guru
Guru haruslah mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan siswa. Pembelajaran yang ada di kelas maupun di luar ruang kelas bukanlah sekedar penyampaian informasi kepada siswa. Pembelajaran yang diselenggarakan guru haruslah melibatkan mental dan tindakan serta keseluruhan inderawi secara total, jadi bukan hanya sekedar konsumsi otak semata. Guru perlu melatih siswa untuk mempelajari gagasan, memecahkan masalah, dan merefleksikan apa yang dipelajari dalam kehidupannya. 

Dalam konteks penggunaan media pembelajaran, guru merupakan salah satu kunci dalam melakukan inisiasi agar kelas berjalan kondusif. Gurulah yang harus menyatukan berbagai kekuatan media dengan beragam kegiatan yang relavan dengan tujuan instruksional. Guru pula yang memiliki tanggung jawab penuh dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang berhasil.

Betapapun canggihnya teknologi jika tidak digunakan secara kreatif maka hanya sedikit sekali kontribusinya terhadap hasil pembelajaran. Media akan kehilangan makna jika kegiatan-kegiatan yang dibuat kurang menarik dan miskin variasi. Jelas kiranya bahwa guru haruslah percaya diri dan kreatif dalam menggunakan media sesederhana apapun. Sedangkan dalam menggunakan media yang canggih seperti internet, guru dituntut untuk menunjukkan kemampuan dalam mengoperasikannya. Media akan menjadi alat bantu yang efektif tatkala guru mampu mengemas beberapa kegiatan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan dirinya sendiri secara aktif. Sebaliknya, media hanya akan menjadi beban baik dalam proses pemilihan maupun penggunaannya bila justru dengan media itu seluruh prosesnya ditanggung oleh guru. Artinya dengan adanya media ini juga akan ada semacam katalisator untuk “berbagi tanggung jawab” dalam proses pembelajaran.

2. Peran murid
Dalam proses pemebelajaran yang benar, siswa harus dalam kondisi aktif. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dan secara pribadi menarik hati. Siswa haruslah secara proaktif menunjukkan partisipasinya dalam kelas.

Siswa harus menumbuhkan sikap berani mnencoba tanpa ada rasa takut untuk berbuat kesalahan. Kesalahan merupakan titik awal untuk lebih dan lebih keras lagi dalam belajar. Proses pembelajaran yang berhasil merefleksikan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan justru akan memungkinkan pengetahuan atau informasi yang didapat itu akan teringat terus.

Pembelajaran yang paling baik adalah jika siswa ikut terlibat melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang ada. Di sinilah letak pentingnya para siswa itu memiliki strategi belajar yang memungkinkan dirinya berkembang sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki. Kemampuan dan kemauan untuk terlibat secara aktif merupakan parameter bahwa pembelajaran berjalan dengan benar.

Keefektivan pembelajaran dapat ditingkatkan kalau siswa dapat memahami gaya belajarnya sebagai strategi yang khas serta dapat mendayagunakan secara optimal fikiran dan hatinya. Peran siswa untuk dapat lebih aktif dengan menggunakan strategi belajar yang tepat, memberikan masukan konstruktif kepada guru untuk capaian yang optimal dan memberikan balikan yang memungkinkan proses perbaikan untuk yang akan datang, merupakan kondisi yang baik dalam rangka pengembangan kegiatan berbasis media pembelajaran yang ada.

3. Organisasi kelas
Salah satu perkembangan dalam pengajaran bahasa sekarang ini adalah bagaimana mengorganisasi siswa di ruang kelas. Manfaatnya terletak pada tingkat interaksi antar siswa dan pengaruh situasi pada perasaan dalam menggunakan bahasa. Jika suasana kondusif maka media dapat memainkan peran pentingnya secara optimal dalam memotivasi siswa, menjadikan bahasa yang sedang diajarkan kontekstual, memberikan acuan yang riil dan membantu menjaga disiplin kegiatan.

Organisasi kelas yang baik juga dapat menjadi sarana untuk sosialisasi dengan teman yang lain secara lebih baik. Siswa akan terbiasa dengan sikap menghargai pendapat teman lain yang berbeda. Dengan kerja sama dalam kelas secara sinergis akan memungkinkan para siswa untuk bersikap empati terhadap orang lain sehingga setiap siswa akan mampu mengendalikan egoisme yang berlebihan pada dirinya.

Ada dua hal dasar dalam organisasi yang berhasil; siswa harus jelas tentang apa yang akan mereka lakukan, dan siswa harus menggunakan sebanyak mungkin bahasa Inggris dalam melakukan kegiatan itu. Terdapat banyak cara mengorganisasi kelas; di antaranya sebagai berikut:

Classwork

clip_image001clip_image001clip_image002Bentuk organisasi kelas dapat mengambil beberapa bentuk di antaranya adalah yang paling konvensional dengan bentuk o       atau         o
Sebagai refreshing agar terhindar dari rasa bosan, beberapa bentuk organisasi kelas dapat diubah dalam bentuk O atau U.

Pairwork

Bentuk organisasi berpasangan merupakan bentuk paling dasar dalam kerja sama dengan teman lain. Biasanya dengan teman sebangku, sehingga tidak perlu menggeser kursi. Untuk memberikan variasi pasangan, siswa bisa saling bertukar anggota dengan pasangan lain sehingga pasangan baru terbentuk.

Groupwork

Organisasi kelompok merupakan bentuk kerja kooperatif yang cukup besar jumlahnya untuk menjalin hubungan yang dinamis namun sekaligus cukup kecil untuk mendorong siswa turut ambil bagian. Banyak sekali variasi kegiatan yang dapat dilakukan dalam groupwork ini, beberapa di antaranya adalah:
a.       Buzzgroups: sebuah masalah didiskusikan oleh kelompok kecil selama beberapa menit sebelum melihat pemecahan atau laporan di depan siswa secara keseluruhan.
b.      Hearing: satu siswa dari setiap kelompok ditunjuk sebagai “pakar”. Lalu pakar itu mendiskusikan pertanyaan mengenai topik tertentu dan dapat diinterview oleh sebuah panel dari siswa yang kemudian membuat sebuah keputusan tentang pertanyaan itu.
c.       Fishbowl: semua anggota kelas duduk dalam lingkaran besar. Di tengah lingkaran ada lima kursi. Tiga kursi diduduki oleh siswa yang mengungkap pandangannya tentang topik atau pertanyaan yang diketahui sebelumnya (utamakan yang kontroversial). Tiga siswa itu memulai diskusi. Para siswa yang memiliki pandangan berbeda dapat bergabung untuk menduduki dua tempat yang tersisa. Siswa yang berada di lingkaran besar bisa saja menggantikan pembicara di lingkaran kecil dengan memegang pundaknya jika mereka ingin sekali mempresentasikan kasus itu dengan lebih baik.
d.      Network: kelas dibagi dalam beberapa kelompok yang beranggotakan tidak lebih dari sepuluh siswa. Setiap kelompok menerima satu gulung benang. Siapa saja yang berbicara tentang topik yang dipilih harus memegang gulungan benang itu. Ketika siswa itu selesai bicara maka gulungan itu diberikan kepada pembicara berikutnya, tetapi dia tetap memegang benang itu. Dengan demikian, jaring-jaring benang akan terbentuk. Dari sini akan terlihat siapa yang berbicara paling banyak dan siapa yang paling sedikit.
e.       Onion: kelas dibagi dalam dua kelompok besar. Seluruh kursi yang ada dalam kelas disusun dalam sebuah lingkaran ganda. Kursi yang berada dalam lingkaran luar menghadap ke dalam dan kursi yang ada dalam lingkaran dalam menghadap keluar, sehingga siswa yang duduk di lingkaran luar akan berhadapan dengan siswa yang duduk di lingkaran dalam. Setelah beberapa menit diskusi berjalan, seluruh siswa yang duduk di lingkaran luar bergeser satu kursi di sebelah sehingga sekarang mereka punya pasangan baru untuk diskusi selanjutnya.
f.       Star: empat hingga enam kelompok kecil mencoba untuk mencari pandangan umum atau solusi. Setiap kelompok memilih seorang pembicara yang tetap berada dalam kelompok itu namun memiliki ijin untuk memasuki diskusi pada kelompok lain.
g.      Opinion vote: setiap siswa menerima kartu voting dengan nilai 1 hingga 5 (1 = agree completely, 5 = disagree completely). Setelah sebuah permasalahan (yang perlu diungkapkan sebagai pernyataan) didiskusikan beberapa lama, setiap siswa di voting; dari sini distribusi dari pendapat yang berbeda selintas dapat dilihat.
h.      Forced contribution: untuk meyakinkan bahwa seluruh anggota kelompok memberikan pandangannya dalam diskusi, nomor diberikan untuk menentukan urutan berbicara dari seluruh anggota.

‘Pyramid grouping’ atau ‘snowballing

Bentuk organissi ini sangat praktis dan dapat membantu guru dalam semua pengajaran. Bentuk ini menjadikan setiap individu siswa mengambil tanggung jawab yang biasanya bisa dihindari dalam kerja kelompok. Teknik ini juga memungkinkan siswa untuk menghargai perbedaan pendapat dari orang lain dalam melihat sesuatu, dan hal ini sangat bermanfaat dalam menemukan solusi yang optimal. Tahapan kerjanya adalah sebagai berikut:
  1. Para siswa mulai bekerja secara individual.
  2. Kemudian setiap siswa berpasangan dengan siswa lain dan membandingkan kerja mereka. Keduanya dapat diminta untuk membuat sebuah kesepakatan.
  3. Sekarang empat siswa menjadi satu kelompok. Masing-masing pasangan bercerita pada pasangan yang lain tentang apa yang telah mereka sepakati. Kelompok ini juga diminta untuk berusaha mencari kesepakatan.
  4. Hal yang sama dilakukan pada dua kelompok, sehingga setiap kelompok terdiri dari delapan siswa.
  5. Akhirnya, diadakan diskusi kelas tentang apa yang disepakati dalam kelompok mereka.
4.   Variasi media dan kegiatan
Berbagai penelitian mendukung pentingnya variasi penggunaan media dalam pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Media audiovisual, dari yang canggih seperti televisi, film dan perlengkapan berbantu komputer hingga yang sederhana seperti alat peraga, ilustrasi, dan ekskursi, menjadi bagian yang penting dalam setiap tingkatan pembelajaran.

Perpindahan perhatian siswa yang tepat dari mode aural seperti pembicaraan guru menuju ke mode visual seperti ilustrasi di papan tulis, atau dari mode visual katakanlah gambar menuju ke mode visual yang lain katakanlah sebuah benda, cenderung mampu meningkatkan kadar perhatian para siswa. Di sinilah guru memainkan perannya sebagai stimuli (Gage dan Barliner, 1977). Stimuli yang tidak berubah-ubah merupakan kondisi monoton dan mengundang rasa bosan siswa, sementara variasi dalam media maupun kegiatan pembelajaran akan membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity) atau ‘exploratory behaviour’ dan meningkatkan perhatian siswa.

5. Empat tahap pembelajaran
Sebagaimana diungkap oleh Hammond (dalam Helena, 2004), untuk mencapai kompetensi komunikatif sebagai the ultimate goal suatu pembelajaran terdiri dari empat tahap. Empat tahap itu adalah building knowledge of field, modelling of the text, joint construction of text, dan independent construction of text. Dalam konteks penggunaan media, guru harus memperhatikan proporsi dan variasi penggunaan media dalam setiap tahapan itu. Dalam setiap tahapan tidaklah mungkin sama tingkat intensitas penggunaan media; karenanya guru harus proporsional.

Bagian pertama disebut Building Knowledge of Field yaitu membicarakan topik yang akan dibahas. Kegiatan ini bersifat interaktif antara guru dan siswa, siswa dan siswa sehingga keterampilan listening dan speaking dimulai di sini. Misalnya membicarakan makanan yang paling dikenal siswa seperti mie goreng instant. Media realia berupa satu bungkus Indomie goreng dapat dipakai sebagai penarik perhatian.
Guru dapat meminta siswa untuk berpartisispasi dalam mengembangkan kosa kata yang diperlukan dalam membuat mie goreng instant, mulai dari kata benda, kata kerja dan tata bahasa yang digunakan untuk teks ini misalnya imperative. Kegiatan belajar membuka kamus dapat dilakukan di sini. Gambar-gambar yang ditempel pada flashcard dapat digunakan sebagai media untuk mengenalkan siswa kepada noun phrase yang relevan seperti frasa red tomatoes dengan menunjukkan gambar tomat berwarna merah.

Tahap kedua dilakukan modelling of text guna mengenalkan teks-teks lisan maupun tulis yang berhubungan dengan jenis teks procedure. Pada tahap ini guru menyajikan teks conversation, misalnya, antara ibu dan anak yang sedang memasak di dapur, memesan makanan di restoran, meminta tolong kepada pelayan toko dengan ungkapan yang sederhana dan relevan dengan kehidupan anak. Sedangkan teks tulis seperti resep juga dapat dikenalkan pada tahap ini dengan menggunakan bahasa yang khas resep; artinya, tanpa basa-basi kesantunan, padat, ringkas dan bentuk dan unsur teksnya cenderung tetap, yakni: judul, bahan, cara memasak, cara menghidangkan. Bungkus Indomie tetap bisa digunakan sebagai Authentic Material namun difokuskan pada teks cara memasaknya.

Tahap ketiga adalah digunakan untuk kegiatan joint construction of text yang berarti siswa secara bersama-sama, misalnya dalam kelompok atau berpasangan, menciptakan conversation sederhana mengenai cara membuat makanan kemudian menyusun resep makanan yang mereka bicarakan bersama-sama. Petunjuk memasak dapat digandakan dan dibagikan agar siswa mencontoh dan memodifikasinya untuk diterapkan dalam konteks resep baru.

Tahap terakhir adalah melatih siswa untuk menciptakan teks secara mandiri yang disebut Independent Construction of text. Pada tahap ini siswa diharapkan mampu melakukan conversation yang melibatkan tindak tutur yang digunakan dalam teks prosedur dalam konteks yang baru secara mandiri atau spontan. Sedangkan dalam hal teks tulis, siswa diharapkan mampu menulis, misalnya resep masakan yang disukainya secara mandiri dengan menggunakan tata bahasa dan tata tulis yang sudah dipelajarinya. Hasil tulisan tersebut harus difahami oleh pembacanya dengan baik. Siswa dapat saling bertukar resep atau menempelkan resep-resep mereka di dinding dengan diberi ilustrasi gambar. Siswa diharapkan merasa bangga akan hasil karyanya dan mempublikasikannya di ruang kelas. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap senang menulis dan tidak malu mempublikasikan tulisan. Bila guru ingin menggunakannya sebagai media pembelajaran, karya-karya itu dapat dipilih yang paling menarik atau yang representatif.
=============
Sumber: Modul Pelatihan Terintegrasi Guru Bahasa Inggris SMP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar